Label
- curhat (20)
- gempabumi dan tsunami (54)
- geo (14)
- hobbies (67)
- lain-lain (30)
- music (6)
- peta (10)
- picture (70)
- song (11)
- travelling writer (51)
Kamis, 24 Januari 2013
Sabtu, 22 Desember 2012
Nama, Slip Rate dan Tipe Patahan Gempabumi di Indonesia
| No | Nama Patahan | Slip Rate | Tipe Patahan |
| 1 | Aceh | 2 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 2 | Seulimeum | 2.5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 3 | Tripa | 6 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 4 | Renun | 27 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 5 | Toru | 24 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 6 | Angkola | 19 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 7 | Barumun | 4 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 8 | Sumpur | 23 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 9 | Sianok | 23 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 10 | Sumani | 23 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 11 | Suliti | 23 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 12 | Siulak | 23 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 13 | Dikit | 11 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 14 | Ketaun | 11 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 15 | Musi | 11 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 16 | Manna | 11 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 17 | Kumering | 11 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 18 | Semangko | 5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 19 | Sunda | 5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 20 | Cimandiri | 4 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 21 | Opak(Jogja) | 2.4 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 22 | Lembang | 1.5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 23 | Pati | 0.5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 24 | Lasem | 0.5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 25 | Flores back-arc | 28 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 26 | Timor back-arc | 30 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 27 | Wetar back-arc | 30 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 28 | Sumba normal | 10 mm/tahun | Normal-slip (Patahan Turun) |
| 29 | South Seram thrust | 11 mm/tahun | Normal-slip (Patahan Turun) |
| 30 | Palu-Koro | 30/35/44 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 31 | Poso | 2 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 32 | Matano | 37/44 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 33 | Lawanopo | 25 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 34 | Walanae | 2 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 35 | Gorontalo | 11 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 36 | Batui thrust | 2 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 37 | Tolo thrust | 9/19 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 38 | Makassar thrust | 4/13 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 39 | Sulu thrust | 10 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 40 | West Molucca sea | 13 mm/tahun | Normal-slip (Patahan Turun) |
| 41 | East Molucca sea | 29 mm/tahun | Normal-slip (Patahan Turun) |
| 42 | Yapen | 46 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 43 | Tarera Aidun | 20 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 44 | Sula | 8.5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 45 | West Sorong | 8.5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 46 | East Sorong | 17 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 47 | Ransiki | 8.5 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 48 | West Mamberambo | 22 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 49 | East Mamberambo | 22 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 50 | Manokwari | 10 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 51 | Waipago | 2 mm/tahun | Strike-slip (Patahan Mendatar) |
| 52 | Highland thrust belt | 10 mm/tahun | Reverse-slip (Patahan Naik) |
| 53 | North Papua thrust | 12 mm/tahun | Normal-slip (Patahan Turun) |
referensi : Masyhur Irsyam, Wayan Sengara, Fahmi Aldiamar, Sri Widiyantoro, Wahyu Triyoso, Danny Hilman, Engkon Kertapati, Irwan Meilano, Suhardjono, M. Asrurifak, M.Ridwan, "Ringkasan Hasil Studi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010". BANDUNG, 1 JULI 2010
Rabu, 14 November 2012
Jayapura Solar Eclipse 14 November 2012
![]() |
| Penampakan eclipse jam 5:38 WIT |
![]() |
| Zoom Penampakan eclipse jam 5:38 WIT |
![]() |
| Penampakan eclipse jam 5:40 WIT |
![]() |
| Zoom Penampakan eclipse jam 5:40 WIT |
![]() |
| Penampakan eclipse jam 6:00 WIT |
Minggu, 11 November 2012
Gempabumi dan Tsunami Biak, Papua tanggal 17 Februari 1996
Pada sore hari tanggal 17 Februari 1996 pada pukul
14:59:30 WIT atau 05:59:30 UTC Pulau Biak dan sekitarnya di guncang getaran
gempabumi sangat keras. Gempabumi tersebut dirasakan di beberapa tempat yaitu
Biak-Kab. Biak Numfor dengan Intensitas VI-VII MMI, Serui-Kab. Kepulauan Yapen
dengan intensitas VI-VII MMI dan Manokwari-Kab.manokwari dengan intensitas III-IV
MMI. Gempabumi tersebut di ketahui mempunyai kekuatan gempabumi 8.1 (Ms) atau 8.2 (Mw) dengan
lokasi pusat gempabumi di 0.89°LS-136.95°BT atau 101 km Timur Laut Biak-Papua,
dengan kedalaman gempabumi yaitu 33 km. Gempabumi tersebut ternyata diikuti
dengan adanya gelombang tsunami yang menerjang sekitar Biak Utara hanya dengan
waktu sekitar 10-15 menit. Berdasarkan Laporan berita (Jakarta Post, 1996)
menyebutkan, ketinggian tsunami adalah 4 meter di Manokwari, 7 meter di Sarmi,
6-7 meter di Korim (Biak Utara), 3-5 meter di Biak dan 7 meter di Pulau Yapen
(*referensi 1). Akibat gempabumi dan tsunami tersebut, 108 orang telah
meninggal dunia, 423 orang mengalami luka-luka, 58 orang korban hilang dan
4.053 rumah hancur/rusak di sekitar pusat gempabumi.
Berdasarkan lokasi pusat gempabumi,
gempabumi ini disebabkan oleh aktivitas Subduksi Utara Papua (New Guinea
Trench) yang berada di perairan sebelah utara Papua. Subduksi Utara Papua ini
merupakan pertemuan 2 lempeng yaitu Lempeng Indo-Australia yang berada
diselatan dengan Lempeng Caroline-Pasifik yang ada disebelah Utara. Pola
patahan dari gempabumi ini adalah Patahan Naik dengan data focal mechanism-nya
(N1: strike 103, dip 11, rake 69 ; N2: strike 305, dip 80, rake 94). Secara
Historis, daerah Papua pernah terjadi gempabumi yang diikuti gelombang tsunami
pada tahun 1864 dengan Run Up maksimum 12 meter, tahun 1914 dengan Run Up
maksimum 0.1 meter, tahun 1957 dengan Run Up maksimum 1.8 meter dan tahun 1979
dengan Run Up maksimum 2 meter (* referensi 4).
Biasanya getaran di
permukaan bumi yang diakibatkan oleh suatu gempa didominasi oleh
getaran dalam arah horizontal. Wawancara dengan penduduk di 30-an
lokasi yang tersebar di seluruh Biak menunjukkan bahwa gempa Biak
menimbulkan 2 rangkaian getaran berbeda dalam total waktu
selama satu menit. Rangkaian getaran pertama yang tidak terlalu kuat
dirasakan dalam arah horizontal. Selang sekitar 20 - 30 detik berikutnya
dirasakan getaran yang jauh lebih kuat dengan arah getaran vertikal.
Rangkaian getaran yang kedua inilah yang menyebabkan terjadinya
banyak kerusakan pada bangunan-bangunan. Karakteristik getaran-getaran
semacam ini mirip dengan gempa di Kobe 1995 yang didominasi oleh
getaran dalam arah vertikal.Penduduk melaporkan bahwa sesaat setelah gempa
terjadi penurunan muka air laut secara drastis. Fenomena turunnya
permukaan air laut sesaat sebelum terjadinya tsunami semacam ini sama
dengan yang terjadi di Flores 1992 tetapi tidak ditemui di
Banyuwangi 1994. Setelah permukaan air laut surut datanglah
gelombang besar tiga kali dengan bentuk tegak seperti
dinding dengan suara bergemuruh seperti deru pesawat. Warna gelombang
adalah putih kecokelatan yang menandakan terjadinya erosi di dasar
laut. Ketiga gelombang tersebut terjadi dalam waktu sekitar 4-6 menit
dengan selang waktu tiap gelombang sekitar 2 menit. Gelombang terbesar
yang menghancurkan rumah-rumah di pinggir pantai adalah gelombang yang ketiga.(*referensi 5)
Ishigaki, Ryuku, Japan = 0.16 m
Makurasaki, Kagoshima, Japan = 0.50 m
Shionomisaki, Wakayama, Japan = 0.96 m
Chichi Island, Japan = 1.03 m
Tateyama, Chiba, Japan = 0.90 m
Hachinohe, Aomori, Japan = 0.19 m
Shemya, Alaska, USA = 0.35 m
Adak, Alaska, USA = 0.10 m
Port Orford, Oregon, USA = 0.04 m
Crescent City, California, USA = 0.18 m
Santa Monica, California, USA = 0.05 m
REFERENSI :
(1) F. Imamura, D. Subandono, G. Watson, A. Moore, T.
Takahashi, H. Matsutomi and R. hidayat, “Irian Jaya Earthquake and Tsunami
Cause Serious damage”, EOS, Volume 78, No. 19, May 13, 1997
(2) International Tsunami Information Center, “Tsunami Newsletter-July
1996 Volume XXVIII No.2”
(3) H. Matsutomi, N. Shuto, F. Imamura, T. Takahashi, “Field Surveyof the
1996 Irian Jaya Earthquake Tsunami in Biak Island” Natural Hazard 24:199-212,
2001.
(4) Integrated Tsunami Database for the World Ocean, Version 6.52 of
December 31, 2007. CD-ROM, Tsunami Laboratory, ICMMG SD RAS, Novosibirsk,
Russia.
(5) Nanang T Puspito, "Pelajaran Dari Bencana di Biak"
DOKUMENTASI GAMBAR :
(dirangkum dari berbagai sumber)
|
Langganan:
Postingan (Atom)

























