Label

Senin, 07 Juni 2010

Gunung Berapi di Papua

tulisan gw kali ini adalah kenapa sih di Papua gak ada gunung berapi???
ckckckckck...aneh kan??...sedangkan disumatra, jawa, sulawesi utara dan wilayah indonesia lainnya selain kalimantan kok gunung berapi pada nangkring dan berdiri kokoh??? padahal kan di utara Papua tuh ada daerah subduksi.
yud,,,sebelum kita masuk ke inti masalah, ada baiknya kita tw dulu apa sihh sebenernya gunung api itu???....

Gunungapi adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Material yang dierupsikan ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung.
Gunungapi diklasifikasikan berdasarkan dua sumber erupsi yaitu erupsi pusat dan erupsi samping. Erupsi pusat adalah erupsi yang keluar melalui kawah utama dan erupsi samping, erupsi yang keluar dari lereng tubuhnya. Erupsi samping dapat dibedakan sebagai erupsi celah dan esrupsi eksentrik. Erupsi samping adalah erupsi yang muncul pada retakan/sesar dapat memanjang sampai beberapa kilometer. Erupsi eksentrik adalah erupsi samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan pusat yang menyimpang ke samping melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.


Berdasarkan tinggi rendahnya derajat fragmentasi dan luasnya, kuat atau lemahnya letusan dan tinggi tiang asap, gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe erupsi:
* Tipe Hawaiian, yaitu erupsi eksplosif dari magma basaltic atau mendekati basalt, umumnya berupa semburan lava pijar, dan sering diikuti leleran lava secara simultan, terjadi pada celah atau kepundan sederhana.
* Tipe Strombolian, erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunungapi sering aktif di tepi benua atau di tengah benua.
* Tipe Plinian, merupakan erupsi yang sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar.
* Tipe Sub Plinian, erupsi eksplosif dari magma asam/riolitik dari gunungapi strato, tahap erupsi efusifnya menghasilkan kubah lava riolitik. Erupsi subplinian dapat menghasilkan pembentukan ignimbrit.
* Tipe Ultra Plinian, erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih banyak dan luas dari Plinian biasa.
* Tipe Vulkanian, erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltic sampai dasit, umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan sering disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak melulu berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik.
* Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplinian, kedua tipe tersebut merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut atau gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltic dengan air permukaan atau bawah permukaan, letusannya disebut freatomagmatik. Freatoplinian kejadiannya sama dengan Surtseyan, tetapi magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi riolitik.

Bentuk Gunungapi
Bentuk dan bentang alam gunung api, terdiri atas:
* Bentuk kerucut, dibentuk oleh endapan piroklastik atau lava atau keduanya.
* Bentuk kubah, dibentuk oleh terobosan lava di kawah, membentuk seperti kubah.
* Kerucut sinder, dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria.
* Maar, biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik atau freatomagmatik.
* Plateau, dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.

Struktur Gunungapi
Struktur gunung api, terdiri atas:
* Struktur kawah adalah bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegiatan suatu gunungapi, bentuknya relatif bundar.
* Kaldera, bentuk morfologinya seperti kawah tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km. Kaldera terdiri atas : kaldera letusan, terjadi akibat letusan besar yang melontarkan sebagian besar tubuhnya; kaldera runtuhan, terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh gunungapi akibat pengeluaran material yang sangat banyak dari dapur magma; kaldera resurgent, terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh gunungapi diikuti dengan runtuhnya blok bagian tengah; kaldera erosi, terjadi akibat erosi terus menerus pada dinding kawah sehingga melebar menjadi kaldera.
* Rekahan dan graben, retaka-retakan atau patahan pada tubuh gunungapi yang memanjang mencapai puluhan kilometer dan dalamnya ribuan meter. Rekahan parallel yang mengakibatkan amblasnya blok di antara rekahan disebut graben.
* Depresi volkano-tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungan yang berasosiasi dengan pemebentukan gunungapi akibat ekspansi volume besar magma asam ke permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat mencapai ukuran puluhan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.

Terjadinya Gunungapi
Gunungapi terbentuk sejak jutaan tahun lalu hingga sekarang. Pengetahuan tentang gunungapi berawal dari perilaku manusia dan manusia purba yang mempunyai hubungan dekat dengan gunungapi. Hal tersebut diketahui dari penemuan fosil manusia di dalam endapan vulkanik dan sebagian besar penemuan fosil itu ditemukan di Afrika dan Indonesia berupa tulang belulang manusia yang terkubur oleh endapan vulkanik. Sebagai contoh banyak ditemukan kerangka manusia di kota Pompeii dan Herculanum yang terkubur oleh endapan letusan G. Vesuvius pada 79 Masehi. Fosil yang terawetkan baik pada abu vulkanik berupa tapak kaki manusia Australopithecus berumur 3,7 juta tahun di daerah Laetoli, Afrika Timur. Penanggalan fosil dari kerangka manusia tertua, Homo babilis berdasarkan potassium-argon (K-Ar) didapat umur 1,75 juta tahun di daerah Olduvai. Penemuan fosil yang diduga sebagai manusia pemula Australopithecus afarensis berumur 3,5 juta tahun di Hadar, Ethiopia, dan penanggalan umur benda purbakala tertua yang terbuat dari lava berumur 2,5 juta tahun ditemukan di Danau Turkana, Afrika Timur. Perkembangan benda-benda purba dari yang sederhana kemudian meningkat menjadi benda-benda yang disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti pemotong, kapak tangan dan lainnya, terbuat dari obsidian yang berumur Paleolitik Atas.

Proses Pembentukan Gunungapi
Gunungapi terbentuk akibat pergerakan lempeng yang menimbulkan empat busur gunungapi berbeda sebagai berikut:
* Pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh sehingga memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan, kemudian membentuk busur gunungapi tengah samudera.
* Tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua. Akibat gesekan antar kerak tersebut terjadi peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di tepi benua.
* Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lava sepanjang rekahan.
* Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yang membentuk



Dalam penulisan kali ini, yang akan kita bahas lebih mendalam adalah proses pembentukan gunung api yang disebabkan pergeseran lempeng yang saling menumbuk antar kerak. Hal ini dilakukan karena proses yang terjadi di Papua adalah pertemuan antara 2 Lempeng yang saling menumbuk, yaitu lempeng pasifik yang bersifat lempeng samudra yang ada disebelah utara dan lempeng indo australia yang bersifat lempeng benua yang ada diselatan. Pada proses terjadinya gunung api, saat lempeng samudra menyusup jauh kedalam lapisan astenosfer, lempeng samudra akan meleleh dan melebur ikut menjadi magma. Pelelehan tersebut terjadi akibat sangat tingginya suhu pada lapisan astenosfer tersebut. Batuan dan lapisan lempeng samudra tersebut akan ikut melebur menjadi magma yang panas. Lalu, apa akibatnya jika lempeng samudra tersebut berubah ikut menjadi magma??. Yang pasti, dalam kehidupan kita ada namanya proses keseimbangan alam. Dan untuk menjaga keseimbangan akibat meleburnya lempeng samudra menjadi magma tersebut, maka tingkat tekanan magma didaerah penunjaman akan meningkat. Akibatnya peningkatan tekanan magma tersebut, maka sebagian magma berusaha untuk mencari aliran jalan untuk bisa keluar dari tekanan tersebut. Aliran jalan tersebut bisa berupa pori yang arahnya keatas di lempeng benua. Pori tersebut terbentuk akibat adanya kerapuhan batuan yang ada di lempeng benua. Sehingga karena adanya kerapuhan tersebut, magma yang bertekanan tinggi tadi menyelusup masuk untuk mencari keseimbangan didalam lapisan astenosfer tadi. Semakin tinggi dari tingkat tekanan magma tadi, semakin kuat pula daya dorongnya. Akibatnya, magma terus menyusup dan menekan terus ke permukaan daratan. Hasil dari ledakan magma akibat tekanan dalam tadi lahh yang bisa menyebabkan adanya letusan gunung api.
Sekarang mari kita diskusikan sekilas tentang apa itu lapisan astenosfer. Lapisan Astenosfer merupakan lapisan atas dari mantle yang kedalamannya secara umum diantara 100 km hingga 700 km. Tingkat kedalaman lapisan ini sangatlah bervariasi, ada yang pada lapisan 300 km sudah ada lapisan astenosfernya dan juga pada kedalaman yang lebih dalam dari 700 km belum juga ditemukannya lapisan astenosfer ini. Hal ini sedikitlah dipengaruhi oleh lapisan yang ada diatasnya yaitu lapisan litosfer, yang kedalamnnya bervariasi pula. Lapisan astenosfer ini bersifat liquid atau cair, dimana suhunya sangatlah panas. Karena tingkat kepanasan yang tinggi ini, tunjaman lapisan samudra yang terdiri dari batuan basalt bisa dilelehkan dan dileburkan.





Sekarang kita akan lebih masuk ke inti permasalahan utama, mengapa di Papua tidak terdapat adanya gunung berapi??..sedangkan wilayah lain di Indonesia selain Kalimantan ada gunung berapi???. Bahkan Negara tetangga kita yaitu Papua New Guinea yang notabene masih satu pulau dengan Papua, terdapat cukup banyak gunung api???...untuk sekilas mari kita lihat keberadaan posisi gunung api yang ada di Indonesia dan di Papua New Guinea.






oke...mari kita lanjut...
Alasan mengapa Kalimantan tidak ada gunung berapi adalah karena tidak adanya pertumbukan 2 lempeng disana. Secara analisa, Kalimantan merupakan satu bagian dari lempeng benua yaitu lempeng Eurasia. Jadi disana tidak ada aktivitas kegempaan dan juga kegunungapian. Terus, kok di Papua yang notabene disebelah utaranya adanya pertemuan dua lempeng yang menyebabkan adanya subduksi/penunjaman dan sering terjadi gempabumi, kok malah gak ada gunung api??


baiklah...jadi alasan utama mengapa didaerah Papua tidak ada gunung api??... Jawabannya adalah karena penunjaman lempeng yang ada di Papua ini tidak sampai menunjam hingga ke lapisan Astenosfer.

(T) : loh kok langsung dikasih jawabannya om??? gak seru nihhh....
(J) : tw jawabannya tapi gak ngerti prosesnya, percuma juga dunk!!!...makanya baca blog ini terus sampe selesai :p

Penunjaman lempeng di Papua
Proses penunjaman lempeng di Papua diakibatkan adanya pertemuan antara 2 Lempeng yang saling menumbuk, yaitu lempeng pasifik yang bersifat lempeng samudra yang ada disebelah utara dan lempeng indo australia yang bersifat lempeng benua yang ada diselatan.Kedua lempeng ini bertemu di Perairan utara Papua hingga perairan utara Papua New Guinea. Karakteristik dari lempeng samudra adalah tingkat rigiditasnya lebih tinggi dibandingkan dengan lempeng benua. Selain itu lempeng samudra, tingkat densitasnya juga lebih tinggi dibandingkan lempeng benua. Dari perbedaan karakteristik kedua lempeng diatas, maka tumbukan yang terjadi antara kedua lempeng tersebut adalah berupa subduksi atau penunjaman. Dimana lempeng samudra menyusup dan menunjam kebawah, sedangkan lempeng benua mengalami pengangkatan. Bukti dari adanya pengangkatan yang ada di Papua adalah adanya pegunungan Jaya Wijaya yang ada di tengah Papua.
Berdasarkan jawaban saya tadi mengenai penunjaman lempeng pasifik tidak sampai ke daerah lapisan astenosfer, saya sedikit mempunyai data dukung tentang jawaban saya tersebut. Sedikit lebih saya perjelas, pada saat lempeng sudah masuk ke lapisan astenosfer yang bersifat liquid tersebut, maka aktivitas gempabumi di kedalaman yang sudah masuk ke daerah astenosfer sudah tidak ada lagi. Sebaliknya, jika lempeng tersebut belum masuk menunjam ke lapisan astenosfer, maka kegiatan aktivitas gempabumi akan terus terjadi. Dibawah ini akan saya berikan gambar tentang aktivitas gempabumi didaerah papua dan di Papua New Guinea








Pada gambar diatas, saya mencoba memetakan kedalaman gempabumi yang terjadi di Papua Barat dan Papua menggunakan software winITDB. Pemetaan kedalaman gempabumi di Papua Barat hanya sampai pada kedalaman 103 km, sedangkan kedalaman di Papua hanya sampai kedalaman 170 km. Karena kedalaman gempabumi yang dipetakan hanya sampai di kedalaman 103 dan 170 km, bukan berarti pada kedalaman lebih 103 km untuk Papua Barat dan kedalaman lebih dari 170 km untuk Papua adalah sudah merupakan lapisan astenosfer. Itu merupakan pemahaman yang salah...bukan karena yang saya sebutkan sebelumnya yaitu apabila lempeng sudah masuk ke lapisan astenosfer maka kegiatan kegempaan sudah tidak ada lagi...bukan itu. Tapi dalam hal ini, penunjaman lempeng di Papua Barat hanya baru sampai di kedalaman kurang lebih 100-an km. Sedangkan untuk Papua, Kedalaman penunjamannya hanya baru sampai di kedalaman kurang lebih 170-an km. Mengapa saya bilang dikedalaman lebih dari 103 km untuk Papua Barat itu bukanlah lapisan astenosfer??...hal ini dikarenakan di daerah tersebut tidak ditemukannya gunung api. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, pembentukan gunung api didaerah subduksi/penunjaman terjadi apabila penunjaman lempengnya sudah masuk ke lapisan astenosfer.
Sekarang bagaimana caranya kita mengetahui pada kedalaman berapa sudah termasuk lapisan astenosfer di Papua??. Cara termudahnya adalah yaitu dengan membandingkan dengan negara tetangga kita yaitu Papua New Guinea yang notabene masih satu pulau dengan Papua dan disana terdapat cukup banyak gunung api. Pemetaan kedalaman gempabumi pun saya lakukan di 2 tempat di PNG yang ada gunung apinya yaitu di PNG bagian barat dan PNG bagian timur. Untuk daerah yang saya petakan di PNG bagian barat, kedalaman akibat gempabuminya hingga pada kedalaman 220 km. Sedangkan untuk PNG bagian timur, kedalaman gempanya hingga pada kedalaman 577 km. Jadi, kedalaman penunjaman lempeng untuk bisa sampai ke lapisan astenosfer untuk PNG bagian barat adalah sekitar pada kedalaman 220 km dan sekitar 577 km untuk PNG bagian timur. Yang perlu diingat adalah bahwa kedalaman astenosfer sangatlah bervariasi, seperti yang sudah saya ceritakan di awal-awal tulisan ini. Jadi dari pemetaan tersebut, kita bisa sedikit simpulkan, bahwa pembentukan gunung api di PNG, batas kedalaman penunjaman lempeng terendah untuk bisa masuk ke lapisan astenosfer untuk membentuk gunung api di Papua adalah kurang lebih 220-an km. Dan karena kedalaman penunjaman di Papua Barat dan Papua belum sampai di kedalaman 220-an km, maka tunjaman tersebut belumlah masuk ke lapisan astenosfer. Karena belum masuknya tunjaman lempeng tersebut di lapisan astenosfer, maka tidaklah ada gunung api di Papua dan Papua Barat.
Sebagai bahan perbandingan, saya juga memetakan kedalaman penunjaman yang ada di Jawa Timur, dimana aktivitas gunung api juga terjadi disana.












===========================================

(T) : terus klo kayak gituh...kira2 di Papua sama Papua barat kedepannya bakalan ada gunung api gak om???
(J) : bisa aja sihh terjadi, yang penting penunjaman lempengnya ud masuk ke lapisan astenosfer.
(T) : ohhh..begitu ya om...tapi kapan ya om??
(J) : waduhhh...nihhh anak nanya mlulu yakk..!!! sonoh loe pergi maen sanahh...nihh om kasih duit Rp. 5000,- buat jajan.

PREDIKSI PEMBENTUKAN GUNUNG API DI PAPUA
Seperti hal yang sudah ditanyakan bocah tukang nanya tadi perihal bisa atau tidaknya pembentukan gunung api di Papua dan Papua Barat. Jawab saya yaitu bisa saja kedepannya gunung api di Papua dan Papua Barat bisa terbentuk, yang penting penunjaman lempengnya sudah sampai ke lapisan astenosfer. Jadi, pada saat penunjaman lempeng tersebut sudah sampai ke lapisan astenosfer, maka secara teori pembentukan gunung api akibat subduksi bisa saja terbentuk gunung api di Papua dan Papua Barat.

Terus sekarang adalah masalah prediksi kapan terbentuknya gunung api di Papua dan Papua Barat, diriku juga hanya bisa berestimasi berdasarkan data dukung dari pemetaan yang sudah kita bahas sebelumnya. Secara hukum dan ilmu, memang estimasi ini tidak bisa dipertanggung jawabkan keakuratan dan kebenarannya. Jadi tolong jangan dianggap serius prediksi saya ini, ini hanya pendapat saya pribadi.

Secara perhitungan, kecepatan pergerakan lempeng bisalah dihitung menggunakan Global Position System (GPS). Dalam referensi yang pernah saya baca, kecepatan pergerakan lempeng yang bertumbukan yaitu lempeng pasifik dan lempeng indo-australia berbeda kecepatannya. Lempeng pasifik mempunyai kecepatan pergerakannya 11 cm/tahun, sedangkan lempeng Indo-Australia mempunyai kecepatan 7.1 cm/tahun. Jadi Lempeng Pasifik ini terus menyusup ke bawah, sedangkan lempeng Indo-Australianya mengalami pengangkatan benua. Jadi yang perlu diperhitungkan dalam hal kapan penunjaman ini akan masuk ke lapisan astenosfer, yang perlu dihitung hanya kecepatan lempeng yang menunjam saja, dalam hal ini lempeng Pasifiknya. Jadi secara perhitungan data dukung diatas, batas terendah kedalaman di Papua dan Papua Barat untuk bisa sampai ke lapisan astenosfer adalah sekitar kedalaman 220-an km. Apabila kita kurangi dengan penunjaman yang ada di Papua dan Papua barat, maka kita bisa menghitung berapa kilometer lagi penunjaman tersebut akan bisa sampai ke lapisan astenosfer. Setelah dihitung maka bisa kita dapatkan selisih kedalaman untuk bisa sampai kelapisan astenosfer, yaitu 50 km untuk Papua dan 117 km untuk Papua Barat.
Setelah kita hitung berapa lagi kedalaman yang perlu dicapai untuk bisa sampai ke lapisan astenosfer, maka selisih tersebut kita konversikan ke satuan cm. Didapatkan 5.000.000 cm untuk Papua dan 11.700.000 cm. Setelah itu keduanya kita bagi dengan kecepatan lempeng pasik tersebut yaitu 11 cm. Didapatkan lamanya waktu agar penunjaman bisa sampai ke lapisan astenosfer adalah 454.545,45 tahun lagi untuk Papua (dibulatkan menjadi 500ribu tahun) dan 1.063.636,36 tahun lagi untuk Papua Barat (dibulatkan menjadi 1 Juta tahun).
Yang perlu di inget...ini cuma prediksi asal-asalan gw...gak perlu diseriusin banget. Dan yang perlu diinget juga, kalau pembentukan gunung api, indikator utamanya adalah saat tunjaman sampai ke lapisan astenosfer. Kedalaman astenosfer ini bervariasi kedalamannya. Jadi ini hanyalah fiktif belaka,,,dipercaya sukur...klo gak percaya...gw sukurin loe!!! wkwkkkwkwk...
oiya...klo masih gak percaya sama predict gw, loe buktiin aj sendiri 500rb tahun lagi...kira2 bakal kejadian gak prediksi gw ini... :p
ud ahh...kita serahin aja semua sama sang creator bumi dan segala isinya that is ALLAH SWT.
semoga bermanfaat...amin.





CONCLUSION
- Tidak adanya gunung api di Papua dan Papua Barat diakibatkan tunjaman lempeng Pasifik yang tidak menunjam hingga lapisan astenosfer.
- Kedalaman Penunjaman dari Papua barat hingga PNG bagian timur adalah semakin ke timur, maka kedalaman penunjaman makin dalam.
- Prediksi akan adanya gunung api di Papua dan Papua Barat berturut-turut adalah 500 ribu dan 1 juta tahun lagi.





Reference :
- http://atlasnasional.bakosurtanal.go.id/fisik_lingkungan/gunung_api_detail.php?id=8&judul=Papua
- winITDB software



thread yang lain :
- Kembang Api 2011 di Jayapura
- Menentukan Arah Kiblat
- 10 Event Tsunami paling mematikan didunia
- Peta Tektonik Papua
- Peta Interpolasi menggunakan Arcview GIS 3.3
- bingung sama kemiringan lahan...
- Gempabumi Yapen Waropen 16 Juni 2010
- sebab robohnya bangunan akibat gempabumi yapen waropen
- Peta Bahaya Tsunami Papua
- go to enggros
- Merauke on my lens
- Bovendigoel on my lens
- Nabire on my lens
- Bugs and Insect world
- Pulau ahe & here, kepulauan mamboor
- transportasi indonesia
- what a beautiful sky
- Ekspressi ibu dan anak
- mudik kemarin
- Surade Expedition
- Belajar Jadi Photografer Porno
- Bunga

10 komentar:

  1. gan maaf ni,,,setau ane gunung jaya wijaya itu akibat tumbuan antara 2 lempeng benua bukan lempeng samudra dan benua,itu sama halnya dengan pegunungan himalaya akibat tumbukan 2 lempeng benua,,jadi gak bisa dia tar berubah jadi gunung api,,
    menurut dosen tmen ane, orang geologi,,,
    just share ga,saling berbagi,,

    BalasHapus
  2. dosen bisa berpendapat begitu???...ckckck
    klo boleh tau, pendapatnya tentang tumbukan dua benua yang pendapat dosen anda itu, benua apa yah yang saling ketemu???
    benua papua sama benua australia???
    atau benua asia ketemu sama australia???
    atau mungkin benua pasifik ketemu dengan papua?? :D

    sekedar buat info, secara global...pulau New Guinea atau Papua itu satu lempeng dengan Australia yaitu lempeng Indo-Australia. Jadi bagaimana mungkin satu lempeng itu mempunyai arah pergerakan yang yang saling bertolak belakang/saling bertumbukan.

    berbeda kasus dengan himalaya, memang jelas klo yang bertumbukan itu adalah benua kecil india yang bergerak ke utara bertumbukan dengan benua asia yang cenderung ke selatan. dan disitu juga jelas, antara india dan asia itu merupakan beda lempeng. India itu merupakan bagian lempeng Indo-Australia, sedangkan daerah asia merupakan lempeng Eurasia. Sedangkan mekanisme tumbukan disana tidak ada penunjaman dikarenakan akibat massa jenis antara india dan asia hampir sama, yaitu sama-sama continental crust.

    terus klo anggapan dosen anda itu pegunungan jaya wijaya adalah tumbukan dua benua sehingga tidak dapat tercipta gunung api, kira-kira dosen anda bisa menjelaskan gak bagaimana proses pembentukan gunung api yang ada di Papua New Guinea sana. Soalnya yang setahu saya, pegunungan Jaya Wijaya itu memanjang mulai dari Enarotali Papua hingga oksibil Papua dan terus memanjang hingga ujung Papua New Guinea.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tedi Supardi9 April 2014 08.18

      memang tidak ada tumbukan lempeng benua dengan benua di papua. yg ada juga lempeng benua dgn samudera. mana ada pasifik dsebut lempeng benua.

      Hapus
  3. maf bos z kurang sependapat,lo di papua tdk ada gunung api.
    menurut saya di papua ad gunung api cuman suda mati/ tdk aktif lagi... buktinya menurut peta regionan batuan di dkat danau sentani ada batuan gunung api,, it dari mana???????????
    trus di sorong jga ad batuan TUFA,,,tufa sendiri kan batuan hasil abu vulkanik,,, di manokwari ada anglomerat..
    misalx tidak ada gunung api.. batuan itu smua dari mana datangx????????????

    BalasHapus
  4. octo : waduhh...iya juga yahhh...
    bener juga sihhh klo ngomongin masalah geologi batuannya klo di papua banyak juga batuan vulkanik. Tapi klo bisa bung Octo bisa memberikan penjelasn ke kita semua, kenapa gunung api dipapua bisa mati. ya...semacam hipotesa mungkin...
    yahhh...biar bisa belajar sama-sama gituh...

    trus...klo di dananu sentani ada region batuan gunung api, berarti pembentukan danau sentani bisa dikatakan dengan danau vulkanik yahh???...wahhh perlu jg tuhh hipotesa dari bung Octo.

    ya kalau tulisan saya ada yang salah...tolong di maaf-kan...maklum masih belajar menulis...
    atau mungkin juga...saya-nya yang kurang referensi...
    mohon pencerahannya kepada bung Octo...

    BalasHapus
  5. kenapa batuan ada di Papua?

    BalasHapus
  6. mantap gung artikelnya, berhubung gw bukan orang geologi tapi orang programming mendingan gw hooh aja deh ...:D

    BalasHapus
  7. wah wah pencerahan juga sih, tapi ngliat beberapa komen yang bertolak belakang di atas, kayaknya perlu dikaji lagi bener apa enggak hipotesa disini mas... ane bukan orang geologi, cuman suka aja baca baca kaya gini, keep posting yang informatif gini :)

    BalasHapus
  8. Aleee pak guru mantap skali, ini tugas saya pas saya dapat yg papua lagi thanks pak guru

    BalasHapus
  9. Itu mah teori. Banyak ilmu ngawur. Hasil pun ngawur. Buktinya pihak BMG ngasih kabar gempa chili.bisa datangkN tsunami di Indonesia mana buktinya? Pmanasan global haruanya dua kutub mncair kok saat kutub utara mencair, kutib aelatan gantian seketika membeku? Ini hasil teori ilmu ambrul-adul hanya berdasarkN prasangka2 aliaa kira2. Kadang asal di pergiruan tinggi layak jual ya o.k. ... hahaha

    BalasHapus